free counters A Girl Become A Lady
Random Tumblr Themes

Laporan Perjalanan ke Lokananta dan Monumen Pers Solo

Kunjungan ke Lokananta Solo dan Monumen Pers

oleh Tika Ayu Pratiwi (13/345992/SP25603)

Lokananta

Dua minggu yang lalu, hari Senin  tanggal 12 Mei saya dan teman-teman beserta dosen tercinta kami melakukan melakukan pembelajaran diluar kelas dengan mengunjungi Lokananta dan Museum Pers di kota Solo. Karena saya tinggal di Solo dan pada saat itu masih di Solo jadi saya tidak ikut rombongan teman-teman yang berangkat dari kampus menggunakan bus pariwisata.

Kira-kira pukul 9.00 pagi teman-teman sudah sampai ke tujuan pertama yaitu studio rekaman Lokananta. Saya pun langsung menyusul teman-teman yang pada saat itu sudah berada di sebuah aula yang ada di Lokananta untuk mendengarkan penjelasan-penjelasan mengenai sejarah Lokananta oleh beberapa pegawai disana.

Sejarah singkat mengenai Lokananta disampaikan oleh ibu Titi. Beliau menjelaskan, bangsa Indonesia terdiri dari berbagai kepulauan dan tentunya memiliki budaya yang beragam. Banyak lagu-lagu daerah yang tersebar dari Sabang hingga Merauke. Sebagai sarana untuk menyatukan budaya bangsa, para senior-senior musik pada jaman dahulu ingin lagu-lagu daerah yang tersebar di seluruh Indonesia tersebut dapat dinikmati oleh siapapun dan dari berbagai kalangan dengan mudah.

Hal ini lah yang melatarbelakangi di dirikannya studio rekaman pertama di Indonesia pada tanggal 28 Oktober 1956 yang diberi nama Lokananta. Tujuan awal di dirikannya pabrik piringan hitam Lokananta adalah sebagai transkrip berita antar RRI seluruh Indonesia. Masing-masing RRI mengirimkan beritanya ke Lokananta kemudian digandakan oleh Lokananta dalam bentuk piringan hitam. Kemudian disebarkan kembali ke masing-masing RRI sebagai bahan berita. Jadi bisa dikatakan bahwa Lokananta adalah penyuplai siaran RRI seluruh Indonesia. Pada waktu itu Lokananta menjadi bagian dari jawakan RRI di Indonesia.

Seiring dengan berjalannya waktu, selain memproduksi suplay siaran, Lokananta juga diberi hak oleh pemerintah untuk mengkomersialkan hasil produksi tersebut. Setelah menjadi bagian dari jawakan RRI, kemudian Lokananta diberikan sendiri dibawah kementrian Departemen Penerangan dengan status perusahaan negara. Sehingga Lokananta mempunyai keleluasaan dan kewenangan untuk menyebarluaskan dan menjual dari hasil prodak tersebut.

Dalam perjalanan sejarahnya, musisi-musisi seperti Gesang, Titik Puspa, Waldjinah, Ismail Marzuki, Bubi Chen, Jack Lesmana, Bing Slamet, Idris Sardi dan masih banyak yang lainnya pernah melakukan rekaman disana. Ada lebih dari 40 ribu piringan hitam musik tradisional diseluruh Indonesia berada di sana. Ribuan master rekaman berbagai genre musik, dari mulai pop, kroncong, hingga jazz sejak tahun 50-an hingga 80-an disimpan di sana. Bahkan, master rekaman pidato proklamasi Soekarno juga tersimpan disana.

Sayangnya seiring dengan waktu, kisah kejayaan Lokananta kian menghilang. Hampir semua dokumen berharga yang tersimpan di sana kondisinya sudah kurang layak karena minimnya dana yang dimiliki oleh Lokananta. Beberapa koleksi pun dijual secara terpaksa kepada kolektor untuk biaya operasional.
Selain Glenn, grup musik White Shoes and The Couples Company juga merekam ulang lagu-lagu mereka untuk mengenalkan kembali kepada generasi muda Indonesia agar peduli dengan Lokananta.

Setelah mendengarkan penjelasan mengenai sejarah Lokananta dan teknis perekaman, kami pun berkeliling ke studio rekaman dan ruangan penyimpanan piringan hitam. Banyak benda-benda bersejarah disana seperti piringan hitam yang umurnya sudah puluhan tahun lamanya. Setelah selesai kami pun makan siang di restoran terdekat dan melanjutkan perjalanan ke Museum Monumen Pers.

Museum Monumen Pers

Sedikit tentang sejarah bangunan ini. Gedung ini semula bernama asli Societiet Sasana Soeka yang dibangun oleh Paduka KGPAA Sri Mangkunegoro VII pada tahun 1918 (raja Solo saat itu) sebagai balai pertemuan. Emang sih tiap kota di Indonesia pada masa penjajahan Belanda memiliki gedung societiet sendiri, misalnya di Jakarta ada Harmonie Societiet yang kini sudah dirubuhkan. Namun kenapa gedung ini memiliki kaitan sejarah yang amat erat dengan pers Indonesia sehingga sekarang disebut Monumen Pers Indonesia?

Nah, ceritanya di gedung ini pada tahun 1933 diadakan rapat yang dipimpin oleh R.M. Ir. Sarsito Mangunkusumo yang melahirkan stasiun radio baru pribumi pertama bernama Solosche Vereeniging (SRV). Wow, nggak nyangka kan stasiun radio pertama di Indonesia berdiri di Solo? Nggak hanya itu lho guys, di gedung ini pula, berdiri organisasi PWI (Persatuan Wartawan Indonesia) pada 9 Pebruari 1946. Hingga saat itu, tanggal 9 Februari tersebut ditetapkan sebagai Hari Pers Nasional.

Bangunan ini secara arsitektural sangatlah unik. Bangunan ini merupakan percampuran antara gaya bangunan Eropa dan candi2 ala Jawa. Pembangunannya pun menggunakan batu andesit dengan permukaan kasar, mirip sekali dengan candi2 di Jawa Tengah. Banyak juga ornamen bergaya etnik di tempat ini, misalnya naga yang menghiasi tangga menuju pintu masuk ini.   

Di dalam Monumen Pers ini terdapat perpustakaan sekaligus museum. Sekilas koleksi museum ini agak mirip2 lah ama Museum Penerangan yang kukunjungi di TMII. Ini beberapa koleksi barang2 yang berhubungan dengan pers dan penyiaran berita pada zaman dulu, misalnya gramafon, radio kuno (yang ajaibnya masih menyala!), dan lain-lain.   

Ada juga baju milik Hendro Subroto, seorang penyiar TVRI yang tertembak saat meliput invasi Indonesia ke Timor Timur.

Uniknya museum ini memiliki koleksi koran-koran lama mulai dari masa perjuangan kemerdekaan. Koran ini diterbitkan 22 Agustus 1945, 5 hari sesudah proklamasi. Wow keren!

Ini koleksi lainnya. Headline-nya aja sudah memompa semangat kebangsaan kita.

  

Yang menarik bagi saya adalah iklan-iklan tua ini. Kalimatnya sederhana dan simple. Berbeda dengan iklan jaman sekarang yang cenderung lebih unik dan kreatif.   

Itulah sekilas tentang Monumen Pers di Solo yang mulai berbenah meningkatkan pelayanannya. Selain ada koleksi museum, kita juga bisa belajar di perpustakaanya. Masuknya pun tak ditarik biaya sepeserpun.

Little surprise for dearest mom <3

Baru nge post sekarang nih, padahal ulang tahunnya sih udah tanggal 20 Desember kemarin hehehe. Anyway, selamat ulang tahun mama ku tersayang, panjang umur, sukses segalanya dan selalu diberkahi Allah SWT.. Temenin Tika terus ya sampe sukses nanti terus bisa bikin bangga mama, oke mah? :D

"Never give up on a dream just because of the time it will take to accomplish it. The time will pass anyway. Keep struggle and believe you’ll reach your goal."

- tikaayupratiwi

"When you’re happy, you enjoy the music; but when you’re sad, you understand the lyrics."

- Frank Ocean

"life isn’t happily ever after and golden sunsets and shit like that. It’s work. The person you love is rarely worthy of how big your love is. Because no one is worthy of that and maybe no one deserves the burden of it, either. You’ll be let down. You’ll be disappointed and have your trust broken and have a lot of real sucky days. You lose more than you win. But, shit, you roll up your sleeves and work—at everything—because that’s what growing older is."

- Mystic River  (via if-you-let-me-go-im-running-fast)
April 4th &#8216;12

April 4th ‘12

@ Olla Tisya&#8217;s Sweet 17 Bday Party. April 4th &#8216;12

@ Olla Tisya’s Sweet 17 Bday Party. April 4th ‘12

@ Anggun bbash about 1 month ago.